LAPORAN PENELITIAN
STUDI
KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS
DI
PULAU MAITARA
DESA AKEBAI
KECAMATAN TIDORE
UTARA KOTA TIDORE KEPULAUAN
EKOLOGI PERAIRAN
OLEH:
IKBAL BUAMONA
05161311014
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
KHAIRUN
TERNATE
2014
LEMBARAN PENGESAHAN
Judul Laporan :
Studi Komunitas Makrozoobenthos Di Perairan Pulau Maitara Kecamatan Tidore
Utara Kota Tidore Kepulauan
Nama
Mahasiswa : Ikbal
Buamona
NPM :
05161311014
Asisten Kordinator :
Herman A. Musa, S.Pi
Komposisi Nilai :
a) Nilai
laporan :
b) Nilai
ujian praktikum :
c) Nilai
akhir :
d) Kualifikasi
: lulus/tidak lulus
Ternate, 16 Desember
2014
Dosen
Penanggungjawab Asisten
Praktek
Salim Abubakar, S.Pi,
M.Si Herman
.A. Musa, S.Pi
NIP. 197505032001121004
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Perairan laut Indonesia
berbagai sumberdaya hayati yang sangat potensial untuk dikembangkan bagi
kesejahteraan manusia. Namun pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hayati yang
ada di laut kebanyakan hanya di fokuskan pada sumberdaya alam lainnya relatif
belum tersentuh dan mendapat perhatian untuk pengelolaannya. Salah satu jenis
sumberdaya yang belum banyak mendapat perhatian untuk di kembangkan tetapi
mempunyai nilai ekonomis penting salah satunya organisme yang ada di padang
lamun.
Makrozoobentos merupakan organisme
yang hidup melata, menempel, memendam dan meliang baik didasar perairan maupun
di permukaan dasar perairan. Organisme ini hidup pada lumpur, pasir, kerikil
maupun sampah organic, baik di perairan laut, sungai serta danau. Organisme
yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda,
Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida.
Ada beberapa spesis makrozoobenthos yang mendiami daerah padang lamun menunjukan
bahwa adanya kehidupan yang dinamik terjadi interaksi antar lamun dan
biota-biota laut, terutama saling memanfaatkan dan saling membutuhkan dalam
proses pertumbuhan dan berkembang biak. Adapula komunitas bentos yang memliki
peranan penting bagi kepentingan manusia misalnya sebagi makanan manusia,
sebagai mata rantai makan di laut dan sebagai indicator suatu perairan. Dengan
demikian menunjukan bahwa keberadaan makrozoobenthos pada daerah padang lamun
memiliki potensi yang cukup besar untuk dikelola dan di manfaatkan oleh
masyarakat serta menunjang produksi perikanan di wilayah pesisir.
Studi komunitas makrobentos pantai karang serta
keterkaitannya dengan aktivitas manusia di daerah tropis dan daerah temperate
belum banyak diinformasikan (Addessi, 1994; Pinn dan Rodgers, 2005; Smith et
al. 2008; Tomascik, 1997). Informasi ekologis pantai karang dapat digunakan
sebagai acuan dalam mengelola dan memantau kondisi pantai. Apabila beberapa
spesies menjadi jarang ditemukan, maka perlu dilakukan pembatasan pengunjung di
area intertidal (Tomphson et al. 2002).
Melihat
potensi dan manfaat biota perairan khususnya organisme makrozoobenthos yang
sangat besar maka upaya pengelolaan dan pemanfaatannya perlu di kembangkan dan
di lestarikan.
Sehingga
untuk menggali dan memperoleh informasi yang lebih detail terhadap struktur
komunitas makrozoobenthos, maka perlu di lakukan kegiatan praktikum Ekologi
Hewan dengan judul “Studi Komunitas
Makrozoobenthos Di Perairan Pulau Maitara Desa Akebai Kecamatan Tidore Utara
Kota Tidore Kepulauan”.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat pada penelitian
ini yaitu :
·
Tujuan diadakan praktikum ini adalah mahasiswa dapat melihat, mengamati,
mengetahui serta mengidentifikasi benthos apa saja yang ada di lokasi maitara
·
mengamati makrobentos
serta mendeskripsikan dan mengetahui susunan klasifikasinya
Manfaat diadakannya praktikum ini
yaitu setiap mahasiswa dapat mengidentifikasi benthos apa saja yang hidup di
dasar perairan Pulau Maitara serta mengetahui beberapa
kelas dan jenis dari makrobentos yang di temukan di perairan Pulau Maitara.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Makrozoobenthos
Secara etimologi makrozoobentos
bebrasal dari dua kata yaitu makro dan zoobentos yang berarti hewan dasar yang
berukuran besar (Barnes, 1994). Kelompok hewan-hewan tersebut antara lain
asteroid (bintang laut), echinoidea (bulu babi), holthutroidea (teripang), dan
gastropoda (keong).
Dahuri (2001) dalam Rachmawaty (2011),
menyatakan bahwa secara empiris wilayah pesisir merupakan tempat aktivitas
ekonomi yang mencakup perikanan laut dan pesisir, transportasi dan pelabuhan,
pertambangan, kawasan industri, agribisnis dan agroindustri, rekreasi dan
pariwisata serta kawasan pemukiman dan tempat pembuangan limbah. Makrozoobentos
merupakan salah satu biota yang hidup didasar perairan. Lind (1979) dalam Sinaga
(2007), menyatakan bahwa organisme bentos memainkan peran penting dalam
komunitas dasar, karena fungsinya dalam proses mineralisasi dan pendaur ulang
bahan organik yang tertangkap di dalam lingkungan perairan. Sifat pergerakan
makrozoobentos yang terbatas atau relaitf menetap dan habitat hidupnya di dasar
perairan yang merupakan tempat bahan pencemar maka perubahan kualitas air dan
substrat hidupnya mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobentos.
Bentos adalah organisme flora dan
fauna atau jasad nabati yang hidup mendiami dasar suatu perairan. Fauna benntos
adalah organisasi yang hidup meletakkan diri pada suatu perairan (Odum, 1996).
Menurut Nybakken (1992), fauna bentos di bagi menjadi dua bagian, yaitu
epifauna dan infauna. Epifauna adalah organisme bentik yang hidup pada atau
bergerak melalui permukaan substrat atau organism bentik yang hidup pada
permukaan dasar laut. Sedangkan infauna adalah organism bentik yang mempunyai
kebiasaan hidup membenamkan dirinya ke dalam dasar peraiaran, menggali saluran
atau membuat lubang di dasar perairan.
2.2.
Klasifikasi Organisme Makrozoobentos
2.2.1. Phylum Echinodermata
Phylum echinodermata merupakan
golongan hewan invertebrate yang berkulit duri. Echinodermata berasal dari kata
echinos yang berarti berduri dan derma berarti kulit. Hal ini di sebabkakn
karena adanya rangka di dalam yang berhubungan dengan duri-duri. Sehingga
permukaan tubuhya seperti berduri. Echinodermata merupakan satu-satunya phylum
dalam dunia binatang dimana anggotanya tidak ada yang hidup parasit (Soewignyo,
1989). Adapun yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah teripang
laut, bintang laut, ular laut, bulu babi dan lilia laut.
Echinodermata memiliki ciri khas sebagai berikut:
- Susunan tubuh radial,
- Skeleton terbentuk dari CaCO3,
- Hidup tidak berkoloni,
- Alat gerak berupa system ambulakral,
- Semua hidup di laut,
- Klasifikasi di dasarkan pada beberapa factor berikut:
- Cara bergerak,
- Bentuk tubuh,
- Bahan pembentuk skeleton,
- Meluasnya coelon,
- System alat gerak (system ambulakral).
- Alat respirasi.
Phylum echinodermata dibagi menjadi
5 kelas, yaitu Holothuroidea (teripang laut), Asterodea (bintang laut),
Ophiuridea (bintang ular laut), echinoidea (bulu babi), dan Crinoidea (lilin
laut). Kuncoro (2004).
Soewignyo (1989), secara lengkap
mengklasifikasikan phylum echinodermata sebagai berikut:
1. Kelas Asteroidea (Bintang Laut)
Asteroidea berasal dari bahasa yunani Aster ( bintang ) dan eiodes (
bentuk ). Sehingga kelompok ini sering disebut sebagai bintang laut. Kelas ini
memiliki tubuh pipih berbentuk seperti bintang atau pentagonal, terdiri atas
lima lengan yang tersusun simetri radial. Pada ujung-ujung lengan terdapat alat
sensor yang bentuknya menyerupai tentakel dan bintik mata pada ujungnya
mengandung pigmen merah yang peka terhadap cahaya.
Ø Klasifikasi Ilmiah dari spesies Linckia laevigata sebagai berikut :
Kingdom: Animalia
Phylum: Echinodermata
Kelas: Asteroidea
Ordo:Valvatida
Family:
Ophidiasteridae
Genus:
Linckia
Spesies: Linckia
laevigata
Ø Klasifikasi ilmiah dari spesies Ophirachnela gorgana sebagai berikut :
Kingdom: Animalia
Phylum: Echnodermata
Kelas:
Asteroidea
Ordo: Valvatida
Family : Presteridae
Genus : Ophirachnela
Spesies: O. Gorgana.
Ø Klasifikasi Ilmiah dari spesies P. Nododus sebagai berikut :
Kingdom: animalia
Filum: echinodermata
Kelas: asteroidea
Ordo: valvatida
Famili: presteridae
Genus: protoreaster
Spesies: P. Nododus
2. Kelas
Holothuroidea (Teripang)
Berperan sebagai pembersih di laut karena merupakan pemakan kotoran dan
sisa makhluk hidup yang lain, contohnya Holothuria
Sp. (teripang). Hewan ini memiliki duri yang halus sehingga berbeda
dengan Echinodermata yang lain.
Bentuk tubuhnya menyerupai mentimun sehingga disebut juga sebagai mentimun
laut atau teripang.
Mulut terletak pada bagian anterior dan anus terletak pada bagian
posterior. Tiga baris kaki di daerah ventral untuk bergerak dan dua baris
di bagian dorsal digunakan untuk bernapas.
Ø Klasifikasi ilmiah dari spesies H. Endulis sebagai berikut :
Kingdom: Animalia
Phylum: Echinodermata
Class: Holothuroidea
Ordo: Aspidochirotida
Family
: Holothuroidea
Genus
: Holothuria
Species
: H. Edulis
Ø
Klasifikasi
ilmiah dari spesies H. Scabra sebagai berikut :
Kingdom: Animalia
Phylum: Echinodermata
Class: Holothuroidea
Ordo:
Aspidochirotida
Family
: Holothuroidea
Genus
: Holothuria
Species:
H. Scabra
3. Kelas
Bivalvia (Kerang-kerangan)
Bivalvia adalah kelas
dalam moluska
yang mencakup semua kerang-kerangan:
memiliki sepasang cangkang (nama "bivalvia" berarti dua cangkang).
Nama lainnya adalah Lamellibranchia, Pelecypoda, atau bivalva.
Dalam
kelompok ini termasuk berbagai kerang, kupang, remis, kijing, lokan, simping, tiram, serta kima; meskipun variasi
di dalam bivalvia sebenarnya sangat
luas. Kerang-kerangan banyak bermanfaat dalam kehidupan manusia sejak masa
purba. Dagingnya
dimakan sebagai sumber protein. Cangkangnya dimanfaatkan sebagai perhiasan, bahan kerajinan tangan, bekal
kubur, serta alat pembayaran pada masa lampau. Mutiara
dihasilkan oleh beberapa jenis tiram. Pemanfaatan modern juga
menjadikan kerang-kerangan sebagai biofilter terhadap polutan.
Klasifikasi
ilmiah dari spesies Pincatda maxima
sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum: Mollusca
Kelas : Bivalvia
Family : Pteriidae
Ordo: Amysomynarya
Genus: Pincatda
Spesies:
Pincatda maxima
Ø
Klasifikasi ilmiah dari
spesies Anandara granosa sebagai
berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Ordo :
Arcoida
Family : Arcidae
Genus
: Anadara
Spesies
: Anandara granosa
4. Kelas
Echinoidea ( Bulu babi )
Bulu babi termasuk Filum
Echinodermata, bentuk dasar tubuh segilima. Mempunyai lima pasang garis
kaki tabung dan duri panjang yang dapat digerakkan. Kaki tabung dan duri
memungkinkan binatang ini merangkak di permukaan karang dan juga dapat digunakan
untuk berjalan di pasir.
Ø
Klasifikasi ilmiah dari
spesies Deadema setosum sebagai
berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas
: Echinoidea
Ordo:
Cidaroidae
Family
: Diadematidae
Genus : Diadema
Spesies
: Deadema setosum
Ø
Klasifikasi ilmiah dari
spesies Deadema antillarum sebagai
berikut :
Kingdom:
Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas: Echinoidea
Ordo: Cidaroidae
Family:
Diadematida
Genus:
Diadema Spesies: Deadema antillarum
5. Kelas Gastropoda (Siput atau Keong)
Soewigyo (1989), menyatakan bahwa Gastropoda biasanya disebut siput atau keong dan merupakan kelompok
molluscha yang paling berhasil menduduki berbagai habitat yakni terdapat di
darat, perairan tawar dan terbanyak di laut. Gastropoda biasanya di tamui pada berbagai jenis lingkungan dan
bentuknya telah menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Selanjutnya grastopoda hidup tersebar luas di perairan
Indonesia seperti Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya (Jasin,
1989). Klasifikasi kelas Gastropoda sebagai
berikut :
Ø
Klasifikasi ilmiah dari
spesies Cypraea tigris sebagai
berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas
: Gastropoda
Ordo : Prosobranchia
Family : Cypraeidae
Genus
: Cypraea
Spesies : Cypraea
tigris
Ø
Klasifikasi ilmiah dari
spesies Tronchus niloticus sebagai
berikut :
Kingdom :
Animalia
Phylum : Molusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Prosobranchia
Family : Tronchidae
Genus : Tronchus
Spesies : Tronchus niloticus
Ø
Klasifikasi ilmiah dari
spesies Strombus luhuanus sebagai
berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Family :
Strombidae
Ordo : Mesogastropoda
Genus:
Strombus
Spesies
: Strombus luhuanus
2.2.2. Phylum Molluscha
Pylum moluscha merupakan hewan
lunak. Moluscha berasal dari kata latin moluscus yang artinya lunak, sehingga
dikatakan kelompok hewan ini mempunyai tubuh yang lunak, dan tidak
beruas-beruas atau tidak bersegmen dengan badan tubuh yang anterior yaitu
kepala sedangkan bagian perut sebagai otot kaki (Kuncoro, 2004).
Ø
Klasifikasi filum moluscha sebagai berikut.
Phylum
: moluscha
Kelas : gastropoda
Sub-kelas
: prosobranchia
Ordo : acheogastropoda
Genus : holiotis,
trochus, turbo
Spesis : thrombus, lambis
2.3. Morfologi Makrozoobentos
2.3.1. Kelas Astroidea
(bintang laut)
Bintang laut biasanya berbentuk
simetri radial dengan cara geraknya yaitu bergerak bebas pada batu, karang dan
pasir laut. Bintang laut biasanya bergerak dengan menggunakan tangan, dimana
keluarnya tonjolan-tonjolan dari tubuh yang terdiri dari central disk. Tangan
bintang laut mempunyai lima buah yang menjalur ke sekeliling arah dari pusat
atau cakramnya.