Minggu, 08 Mei 2016

Wisata Pantai Sulamadaha



I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang     
Pariwisata Indonesia tumbuh mengesankan selama tahun 2011. Dari target wisatawan mancanegara sebanyak 7,1 juta orang, Indonesia mampu mendatangkan sebanyak 7,6 juta orang. Perolehan jumlah itu tumbuh 8,5 persen dibandingkan 2010. Bahkan, kinerja pariwisatan Indonesia mengalahkan dunia yang hanya tumbuh 4,5 persen. Perolehan devisa pariwisata selama 2011 tercatat mencapai US$8,5 miliar, atau tumbuh 11,8 persen dibanding tahun sebelumnya US$7,6 miliar. Untuk tahun 2012 masih sementara dicanangkan bentuk pengelolaan yang lebih optimal lagi. Bidang kelautan yang didefinisikan sebagai sektor pariwisata bahari, perikanan, pertambangan laut, industri maritim, dan jasa kelautan, dapat menjadi salah satu andalan produk pariwisata Indonesia. Dengan melandaskan pada aspek eksplorasi, konserfasi, dan pengelolan secara terpadu, pariwisata pantai merupakan salah satu bidang yang cukup potensial untuk di kembangkan, (Dermawan and Aziz, 2012).
 Pulau Ternate merupakan salah satu pulau kecil yang memiliki sumberdaya hayati laut yang melimpah. Dalam pengelolaannya, kelestarian dan kesejahteraan masyarakat menjadi isu yang penting karena kedua aspek ini berhubungan langsung dengan fungsi penting pulau-pulau kecil sebagai fungsi ekonomi, Pulau-pulau kecil memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan dengan produktivitas yang tinggi sehingga memiliki potensi wisata bahari sebagai wilayah bisnis yang berbasis sumberdaya (Resource Based Industry). Dermawan and Aziz, (2012), menambahkan bahwa pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya telah diatur dalam Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 pasal 23 ayat (2) dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 20 Tahun 2008. Salah satu potensi kelautan dan lingkungan yang menonjol di Pulau-pulau kecil adalah perikanan dan parawisata, terutama pulau-pulau yang masuk kawasan konservasi.
Salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya pantai yang mengandalkan alam untuk kepuasan manusia adalah wisata. Pengembangan pariwisata bahari di Pulau Ternate khususnya di Pantai Sulamadaha secara nyata memiliki prospek menjanjikan sebagai daerah tujuan wisata bahari terbesar di Maluku Utara. Hasil penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa di Pantai Sulamadaha terdapat terumbu karang yang luas kehidupan biota laut lainya yang menjadi objek wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini. Selain keanekaragaman karang dan ikan karang yang tinggi, pantai ini juga memiliki biota laut yang unik, yaitu menemukan Lili laut yang mempunyai tiga warna yang unik, udang transparan, penyu laut dan jenis biota lainya yang menambah eksotis pantai ini, Soamole (2014).
Mengingat perairan Pantai Sulamadaha yang sangat potensial, maka aktivitas wisata yang dapat dikembangkan di daerah ini berdasarkan objeknya dapat berupa wisata mina dan wisata kuliner. Walaupun memiliki potensi yang sangat tinggi, wilayah ini menjadi kawasan yang sangat rendah terhadap perubahan karakteristik alam yang disebabkan oleh gejala baik dari darat, maupun dari laut  itu  sendiri. Kawasan Pantai Sulamadaha yang telah lama di manfaatkan sebagai objek wisata para wisatawan lokal menjadi pilihan lokasi utama masyarakat Pulau Ternate dan sekitarnya untuk rekreasi karena selain jaraknya yang dekat dengan biaya yang relatif murah, kawasan ini juga menjadi satu-satunya kawasan wisata bahari yang meyediakan objek wisata pantai dan wisata pada KJA yang telah di sediakan oleh pihak pengelola sehingga dapat menarik minat bagi para wisatawan. Perlun adanya minawisata keramba jaring apung (KJA) pada kawasan pantai wisata sulamadaha ini diharapkan dapat memberi informasi bagi masyarakat Kota Ternate khusnya dan Maluku Utara pada umumnya bahwa potensi minawisata keramba jaring apung (KJA) sangat penting untuk dikembangkan selain itu juga keberadaan keramba jaring apung di kawasan ini dapat menunjang ekonomi masyarakat setempat.
Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate (2014), jumlah kunjungan ke pantai sulamadah dari tahun ke tahun terus meningkat, pada tahun 2011 mencapai 50.200 wisatawan, pada tahun 2012 kunjungan menajadi 50.600 wisatawan dan pada tahun 2013 kunjungan naik menjadi 64.900. berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka peneliti perlu melakukan penelitian Skripsi dengan judul “Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Kawasan Untuk  Pemanfaatan Wisata Rekreasi Pantai dan Minawisata Keramba Jaring Apung di Pantai Sulamadaha Kecamatan Pulau Ternate”.
1.2.   Rumusan Masalah
Kawasan wisata yang terdapat di Pulau Ternate khususnya Pantai Sulamadaha banyak digemari masyarakat baik dari dalam maupun luar pulau Ternate meningkatnya minat para pengujung yang sangat tinggi ke lokasi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan karena sampai saat ini belum ada informasi yang jelas mengenai berapa besar kemampuan lahan Pantai Sulamadaha dalam menampung suatu kegiatan ditinjau dari aspek kesesuaian lahan dan aspek sosial budaya masyarakat setempat. Peningkatan investasi otomatis akan mendorong pergerakan sektor-sektor potensial dan secara langsung maupun tidak langsung dapat menciptakan kerusakan terhadap lahan tersebut kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mempertahankan keberadaan kawasan ini.  Tanpa pengelolaan yang baik, dikhawatirkan kawasan ini lambat laun mengalami tekanan dan dapat menurunkan kualitas kawasan wisata yang ada di kawasan ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah evaluasi terhadap kesesuaian dan daya dukung kawasan sehingga pemanfaatannya dapat berkelanjutan.
1.3.  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian dan daya dukung kawasan, dalam mendukung aktifitas pemanfaatan wisata dan minawisata berkelanjutan di kawasan Pantai Sulamadaha Kecematan Pulau Ternate.
1.4.  Manfaat
Manfaat dari penelitan ini diharapkan dapat memberikan informasi baru kepada pemerintah daerah khususnya dinas terkait mengenai kondisi, kesesuaian dan daya dukung kawasan pantai Sulamadaha untuk pemanfaatan minawisata yang berkelanjutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.      Wisata
Wisata merupakan satu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam yang mengandalkan saja alam untuk kepuasan manusia. Berdasarkan konsep pemanfaatannya, wisata dapat diklasifikasikan dalam ada 3 (tiga) menurut (Fandeli, 2011) yaitu : 1). Wisata alam (Nature Tourism); merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada pengelaman terhadap kondisi alam atau daya tarik panoramanya. 2). Wisata budaya (Cultural Tourism); merupakan wisata dengan kekayaan budaya sebagai objek wisata dengan penekanan pada aspekpedidikan. 3). Ekowisata; merupakan wisata yang berorentasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan sumber daya alama atau lingkungan dan industri kepariwisataan. Macam-macam wisata perairan dan pantai dapat di klasifikasikan dan diuraikan sebagai berikut:
a.         Wisata bahari
Wisata bahari merupakan salah satu jenis wisata yang berkembang di Indonesia hal ini di sebabkan Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang memiliki potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar Bengen, (2012).  Sumberdaya pesisir dan lautan yang dapat di temukan di Indonesia anatara lain populasi ikan hias yang di perkirakan mencapai 263 jenis, terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove dan bentang berbagai alam pesisir yang unik. Kondisi alami tersebut yang menjadi daya tarik begitu besar terhadap wisatawan lokal maupun interlokal. Daerah yang memiliki potensi pesisir dan pantai, pengembangan pariwisata pantai atau bahari merupakan, suatu tantangan yang menjanjikan mengingat parawisata merupakan sektor yang mampu memberika kontribusi tinggi bagai perekonomian daerah (Hunger dan Wheelen, 2003).
b.          Ekowisata bahari
Secara umum,dalam ekowisata terdapat satu bentuk kegiatan pemanfatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan oleh manusia yang di kenal dengan nama ekowisata bahari. Ekowisata bahari merupakan kegiatan yang memanfaatkan sumberdaya pesisir dan lautan yang dikembangkan dengan pendekatan konservasi laut ekowisata bahari memperioritaskan kelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam dan budaya masyarakat. Kegiatan wisata yang dapat di kembangkan dengan konsep ekowisata bahari dapat di kelompokan menjadi 2 (dua) yaitu wisata pantai dan wisata laut (bahari ). Wisata pantai lebih mengutamakan sumberdaya pantai dan budaya masyarakat sedangkan wisata laut (bahari) lebih mengutamakan sumberdaya bawah laut dan dinamika air lautnya (Yulianda, 2007).
Semakin meningkatnya pembangunan ekonomi disuatu kawasan akan semakin meningkatkan pula ancaman terhadap degradasi ekosistem dan sumberdaya alam pulau-pulau kecil, seperti eksploitasi berlebih, degradasi habitat, pencemaran limbah dan penurunan keanekaragaman hayati (Suharsono, 2008). Menurut Agadry (1997), kawasan konservasi laut dan pulau-pulau kecil memiliki perananutama sebagai  berikut :
1)   melindungi keanekaragaman hayati serta struktur, fungsi dan integritas ekosistem, termasuk proses-proses ekologis dalam suatu ekosistem;
2)   meningkatkan hasil perikanan, karena kawasan konservasi dapat melindungi daerah pemijahan, pembesaran dan mencari makanan; meningkat kapasitas reproduksi dan stok ikan; dan
3)   menyediakan tempat rekreasi dan pariwisata yang bernilai ekologis dan estetis.

c.          Minawisata
Menurut Kamal (2005), minawisata adalah pemanfaatan kawasan wisata dengan pembangunan produksi perikanan untuk mencapai ketertarikan masyarakat pengguna akan pengembangan perikanan pada kawasan wisata tersebut. Dengan kata lain, minawisata adalah pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah yang berbasis pada pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata secara terintegrasi pada suatu wilayah tertentu (Dermawan, A. dan A.M. Aziz, 2012). Pemanfaatan kawasan wisata dengan pengembangan produksi perikanan untuk mencapai ketertarikan masyarakat pengguna akan pengembangan perikanan pada kawasan wisata tersebut. Arahan aktivitas wisata mina yang berbasis perikanan atau kombinasinya dapat berupa :
1.      Pengembangan wisata budidaya laut (marine culture); melihat proses budidaya ikan di keramba jarring apung, memberi makan dan memanen ikan;
2.      Pengembangan wisata keramba jarring apung KJA, sport and recreation fishing; dan
3.      Sperafishing adventures (berburu ikan) dengan atau tanpa alat selam (Scuba), yaitu berburu ikan dengan senjata harpoon atau panah bertujuan untuk menangkap/berburu ikan secara selektif, baik dari segi jenis maupun ukuran.
d.         Minawisata Pulau-pulau kecil
Minawisata Pulau-pulau kecil didefinisikan sebagai pulau dengan luas area kurang dari atau sama dengan 2.000 km2 (UU No 27 Tahun 2007). Adapun gugusan pulau-pulau kecil adalah kumpulan Pulau-pulau yang secara fungsional saling berinteraksi dari sisi ekologis, ekonomi, sosial dan budaya (DKP RI, 2001). Dalam UU RI No 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, disebutkan bahwa perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungan mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Dalam hal ini seringkali digunakan kata mina untuk menggantikan kata perikanan yang pada hakekatnya mengandung pengertian sama dengan kata perikanan itu sendiri. Pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan pada dasarnya memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat nelayan dan juga masyarakat lainnya yang hidup di wilayah pesisir.
Pada tahap awal, minawisata pulau-pulau kecil dikemas dalam bentuk satu program pemberdayaan masyarakat pulau-pulau kecil melalui pendayagunaan potensi sumberdaya perikanan dan pariwisata berdasarkan prinsip-prinsip tersebut yaitu; emisi karbon yang rendah, ramah lingkungan, sesuai daya dukung dan daya tampung, konservasi (penggunaan sumberdaya secara efisien), berbasis sumberdaya lokal, dan keterlibatan stakeholders lokal terkait.

 
2.1.1.      Wisata rekreasi pantai
Menurut Krippendorf (1994) dalam Jaelani (2012), bahwa kegiatan rekreasi merupakan salah satu kegiatan yang dibutuhkan oleh setiap manusia secara psikologi banyak orang di lapangan yang merasa jenuh dengan adanya beberapa kesibukan dan masalah, sehingga mereka membutuhkan istirahat dari bekerja, tidur dengan nyaman, bersantai sehabis latihan, keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan, mempunyai teman bekerja yang baik, kebutuhan untuk hidup bebas, dan merasa aman dari resiko buruk. Wisata rekreasi pantai itu sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan wisata yang dilakukan di pesisir pantai yang memiliki pemandangan (panorama) yang elok dan indah ketika dipandang sehingga dapat menenangkan pikiran.
2.1.2.      Wisata keramba jaring apung (KJA)
Wisata keramba jaring apung (KJA) adalah tempat wisata yang bertempat pada keramba jaring apung yang telah disiapkan oleh pihak pengelola, di Indonesia terdapat banyak lokasi wisata pada keramba jaring apung (KJA), diantaranya adalah wisata KJA di Danau Toba, Danau Maninjau, semuanya adalah tempat wisata KJA pada wisata KJA ini pengunjung dimanjakan pandanganya dengan melihat beragam jenis ikan yang dibudidayakan pada KJA tersbut, pengunjung juga diberi kesempatan untuk member pakan terhadap ikan dan lain-lain. Di pantai Sulamadaha tepatnya pada bagian telukatau yang biasa disebut hololeh masyarakat lokal, terdapat pula KJA yang dapat dijadikan sebagai tempat wisata pemancingan atau minawisata KJA.
2.2.      Daya dukung kawasan
Daya Dukung (carryng capacity) kawasan secara umum dapat didefinisikan sebagai kemampuan kawasan (alam) untuk mendukung kehidupan manusia atau benda hidup lainnya. Daya dukung adalah suatu cara untuk menyatakan batas-batas penggunaan terhadap sumberdayanya (Clark, 1996). Kajian daya dukung kawasan bertujuan untuk menentukan jumlah maksimum pengunjung wisata yang masih ditolerir oleh suatu kawasan wisata (Ketjulan, 2010).
Menurut Dahuri (2002) dalam Manafi dkk (2009) daya dukung diperhadapkan pada biota dengan adanya keterbatasan lingkungan seperti, ketersediaan makanan, ruang atau tempat berpijak, penyakit, siklus predator, oksigen, temperature atau cahaya matahari. Pulau kecil sebagai sumberdaya dengan berbagai potensi ekonomi khususnya perikanan dan pariwisata memiliki ultimate constrain penting yaitu keterbatasan luas daratan, ketersediaan sumberdaya air tawar dan rentan terhadap pengaruh lingkungan. Oleh karena itu daya dukung pulau-pulau kecil (PPK) dapat ditentukan/diperkirakan dengan cara menganalisis: (1) potensi sumber air tawar, (2) ketersediaan ruang untuk peruntukkan yang sesuai khususnya perikanan dan pariwisata, dan (3) kemampuan ekosistem pulau untuk menyerap limbah secara aman sebagai residu kegiatan pembangunan.
2.3. Kawasan pantai sulamadaha
Pantai Sulamadaha terletak di Kelurahan Sulamadaha dan memiliki dua tempat utama untuk berekreasi yaitu bagian selatan yang dekat pintu gerbang masuk kawasan dan merupakan tempat favorit para wisatawasan yang berkunjung untuk bermain dengan keluarga, dan bagian utara atau teluk (hol) yang merupakan tempat favorit bagi pengunjung yang datang untuk berwisata snorkeling dan berenang karena kondisi perairannya yang masih jernih sehingga mendukung kegiatan wisata bawah air. Bagian utama atau selatan, pantai ini berpasir hitam, dibagian kanan dan kiri ada batu-batu hitam besar hingga ke bagian teluk dan di sepanjang jalan menuju ke hol, ditumbuhi pohon-pohon yakni capilong, beringindan mangrove. Bagian utara Pantai Sulamadaha terdapat sebuah teluk (hol) kecil yang dikelilingi oleh tebing yang tinggi dan batu-batu hitam yang besar, membuat pantai terkesan unik dan indah. Terlebih lagi suasana alam yang masih asri. Jika ingin mengunjungi teluk ini, kita dapat menempuhnya dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit dari pintu utama. Saat ini pantai Sulamadah dikembangkan sebagai objek wisatam alam pantai dengan memanfaatkan kekhasan alam pantai yang dimilikinya. Di kawasan ini, kegiatan wisata pantai telah didukung oleh beberapa fasilitas umum seperti warung-warung makan, ruang terbuka, tempat berteduh (gazebo), tempat parkir, dan kamar mandi/toilet. Menurut Pitana dan Gayatri (2005), semuanya merupakan atraction, termasuk service dan facilities, karena semua itulah yang menjadi penyebab seorang wisatawan berkunjung. Oleh karena itu diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk mengeksplorasi potensi daya tarik Pantai Sulamadaha sebagai objek wisata (Soamole, 2014).
Sumberdaya alam pantai dan laut yang dapat dikembangkan menajdi kawasan pariwisata berupa pemandangan pantai yang indah dan keaslian lingkungan seperti kehidupan di bawah air, bentuk pantai dan hutan pantai dengan berbagai jenis tumbuhan dan hewannya. Pengembangan pantai sebagai tempat wisata merupakan jasa lingkungan dari alokasi sumberdaya yang cenderung akan memberikan manfaat pada kepuasan batin seseorang dikarenakan mengandung nilai estetika tertentu (Ali, 2004). Di Maluku Utara, Ternate khususnya Ternate Utara Pantai Sulamadaha sendiri merupakan salah satu daerah wisata alam pantai dan laut yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal.
Kawasan Pantai Sulamadaha merupakan daerah yang memiliki potensi pariwisata yang didukung oleh keberadaan alam, kehidupan masyarakat, kondisi sosial budaya dan dunia usaha. Potensi dan objek kepariwisataan di pantai Sulamadaha yang dapat dikembangkan adalah wisata berenang, rekreasi pantai, snorkeling, wisata selam, berperahu, babana boat, berjemur dan wisata kuliner. Dari hasil pengamatan dan interview dengan masyarakat lokasl, Pantai Sulamadaha termasuk salah satu bagian dari wilayah pesisir Kota Ternate yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Oleh karena itu pantai Sulamadaha ini sudah ±10 tahun belakangan telah ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama pada hari libur dan week end dengan jumlah pengunjung dapat mencapai sepuluh ribuan (10.000) orang (Soamole, 2014). Kondisi kawasan ini masih alami, kecuali sebagian kecil telah dikonversi menjadi lahan penjualan dan jalan memudahkan pengunjung untuk beraktifitas. Di dalam wilayah pantai wisata Sulamadaha ini terdapat bebatuan besar disepanjang pantai menghiasi panorama indah pantai Sulamadaha, sehingga menjadi kawasan yang bisa dimanfaatkan secara terpadu dengan alam pantai berpasir.



III. METODE PENILITIAN
1.1.   Waktu dan tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yakni pada bulan Oktober sampai November 2015 di pantai wisata Sulamadaha Kecamatan Pulau Ternate Provinsi Maluku Utara, lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
 

III. METODE PENILITIAN
1.1.   Waktu dan tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yakni pada bulan Oktober sampai November 2015 di pantai wisata Sulamadaha Kecamatan Pulau Ternate Provinsi Maluku Utara, lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian




Tidak ada komentar:

Posting Komentar